Baccarat Master_BoB global sports betting platform_Sports online_bet36 sports betting_Baccarat

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Baccarat open house

BerbedReal Money Gambling Sitea halReal Money Gambling SiReal Money Gambling Sitetenya dengan saya yang kebiasaan tiap masuk kantor selalu bilang “Permisi” dengan begitu lemah lembut (katanya) dan akan dijawab serentak “Silakan”. Kalau dipikir-pikir, sapaan saya ini persis mbak-mbak katering yang sering mengantarkan makan siang teman-teman Hipwee.

Terakhir Dito. Pria ini bisa dibilang paling fashionable dari keempat anak magang lainnya karena sering menggunakan gaya urban street fashion saat berkegiatan di kantor. Terlebih lagi, rambutnya yang japanese style membuat dia layak untuk menekuni dunia catwalk.

Ketika anak magang satu-satu berdatangan ke kantor, tidak lupa ucapan salam khas yang terucap dari bibir manisnya menyapa teman-teman Hipwee. Chiki sebagai seorang hijabers sejati, sudah pastinya menyapa lembut dengan ucapan Assalamualaikum yang akan disambut Wa’laikumussalam secara bersama-sama. Begitu juga Dito yang kadang kala menyapa dengan sapaan tersebut.

Kadang kala, anak magang bisa kehabisan ide penulisan ketika mendapatkan tugas untuk membuat sebuah artikel. Menariknya, anak-anak magang Hipwee pada kreatif untuk mengatasinya. Mulai dari berkonsultasi ke editor, membawa majalah sebagai bacaannya, hingga jalan-jalan di kantor dengan hati yang begitu gundah gulana.

Kejadian epik itu juga terjadi di kantor Hipwee yang memiliki empat anak magang aktif. Mereka adalah saya sendiri (Angga), Dito, Chiki, dan Ega yang datang dari latar belakang keluarga yang berbeda-beda. Tak ketinggalan pula, sifat-sifat unik dari keempat anak magang ini juga dibawa ke kantor sehingga membuat para editor dan penulis Hipwee pada ketawa dan bertanya-tanya. Berikut ini sifat-sifat anak magang Hipwee yang epik.

Ini yang membuat teman-teman Hipwee bertanya “Apa jangan-jangan Angga juga karyawan katering dan satu grup dengan mbaknya ya? Entahlah. Ini rahasia ilahi yang belum terpecahkan hingga sekarang,” gumam anak-anak Hipwee.

Beda halnya dengan Ega yang lebih casual, pakaian yang dikenakannya lebih simple tapi tetap trendy saat beraktivitas di kantor. Saya sendiri yang lebih formal dengan menggunakan hem dan kaos berkerah, bahkan pernah menggunakan batik saat di kantor. Aksiku ini membuat sang office manager sempat bertanya “Mengapa kamu begitu rapi, Ngga?” ucapnya. Karena kebanyakan teman-teman Hipwee mengenakan pakaian yang casual ketika bekerja.

Jika anak magang banyak diam di awal minggu masuk kerja wajar sih, apalagi sedang masuk dalam tahap pengenalan lingkungan. Anak magang masih butuh penyesuaian terhadap ritme kerja yang ada di sekitarnya. Anak magang akan bicara ketika dalam mengerjakan tugasnya mengalami kendala. Tebaran senyum dari anak maganglah yang hanya bisa diberikan dan menghiasi ruangan kantor saat itu.

Tapi peristiwa itu tidak berlangsung lama. Lambat laun, anak-anak magang termasuk saya mulai berani untuk menyantap siang bersama. Canda tawa hingga duka lara dicurahkan saat makan siang di sana. Bahkan tidak ada sekat di antara mereka. Ya, walaupun anak-anak magang belum pernah makan bersama dalam satu meja namun setidaknya membaur bersama teman-teman dari berbagai divisi di Hipwee.

Anak magang itu pastinya memiliki peranan yang begitu besar dalam sebuah perusahaan, meskipun hanya membantu dalam hal-hal sederhana. Apalagi hadirnya anak magang membuat suasana kantor menjadi lebih cerah dan ceria. Tapi kadang kala, sifat-sifat ajaib anak magang membuat orang kantor pada bingung dan bertanya-tanya dalam hati.

Saya dan Dito ini yang paling demen mencari inspirasi tulisannya dengan berkonsultasi dengan para editor dan penulis Hipwee lainnya. Khusus tambahan buat Dito, dia suka jalan-jalan dan bergumam sendiri hingga orang Hipwee pada bertanya-tanya sedang apa dia?

Untungnya, anak-anak magang Hipwee bisa begitu cair ketika disapa kakak-kakak penulis dan editor yang manis. Ya, walaupun masih malu-malu kucing sih termasuk saya. Tapi lama-kelamaan, persahabatan anak-anak magang dengan orang kantor jadi begitu akrab bagaikan kepompong.

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Anak-anak magang sejak awal memang dibebaskan dalam berbusana ketika menjalani magang di Hipwee. Maka dari itu, terciptalah empat gaya fashion yang berbeda-beda dari keempat anak magang Hipwee. Chiki bisa dibilang hijabers istiqomah masa kini, yang mampu memadupadankan hijab dengan pakaian yang dikenakannya sehingga terlihat menarik untuk dipandang.

Memang di kantor ada fasilitas makan siang yang tersedia. Namun di awal-awal masuk kerja, anak magang pada pura-pura berpuasa. Padahal bulan ramadhan saat itu juga belum tiba dan membuat orang kantor bertanya-tanya. “Apakah mereka tidak lapar? Atau mungkin mereka sedang berpuasa senin-kamis seperti tradisi orang Jawa? Entahlah! Hanya Tuhan yang tahu untuk menjawabnya,” gumam mereka.

Ilustrasi: Anak magang lebih banyak diam daripada berkata-kata di awal masuk kerja. via http://www.vemale.com

Kalau Chiki, sih kadang kala bawa majalah edisi lama untuk cari idenya. Bahkan udah buat kerangka tulisan yang akan dikembangkan jadi artikel. Lain halnya dengan Ega, yang langsung di depan komputer untuk mengetik artikelnya. Setiap anak magang punya caranya masing-masing untuk menemukan ide penulisannya, yang terkadang kelewat batas. Tapi semuanya tetap kreatif.